Oleh: Dr Waode Nurmuhaemin.M.Ed
(Penulis, Kolumnis, dan Research fellow Pada INTI International University, Kuala Lumpur)
Opini | 1 Februari 2026 09:21
PIKIRAN JAKARTA - Memasuki 2026, dunia menghadapi perlambatan yang tidak biasa , dimana hal ini bukan merupakan krisis tunggal tapi serangkaian pasang surut yang merentang dari Eropa hingga Amerika Latin. Perang antara Rusia dan Ukraina yang belum menemukan titik akhir terus menciptakan tekanan pada pasar energi dan pangan global, sehingga menciptakan bayangan panjang bagi pertumbuhan ekonomi berbagai negara. Konflik ini tidak hanya merenggut nyawa dan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi keyakinan investor dan arah aliran modal secara global.
Baru di awal 2026, ketegangan geopolitik kembali memuncak ketika Amerika Serikat melancarkan operasi militer signifikan di Venezuela. Penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan eskalasi ketegangan di kawasan yang kaya sumber daya itu mengguncang pasar minyak dunia, meningkatkan volatilitas harga komoditas, dan memaksa pelaku pasar untuk memperhitungkan ulang skenario supply energi global di tengah tantangan transisi energi. Ketidakpastian seperti ini membuat investor global bergerak hati-hati, yang pada gilirannya memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam kondisi seperti ini, harga emas meroket ke level tertinggi sepanjang sejarah melampaui angka yang tampak hampir tak terbayangkan beberapa tahun lalu. Emas, sebagai aset aman utama menjadi tempat berlindung bagi modal yang takut terhadap pasar saham, geopolitik, maupun inflasi. Lonjakan harga emas mencerminkan ketidakpercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi global dan harapan akan perlambatan yang lebih panjang. Ketika pelaku pasar memilih emas sebagai “pelabuhan aman”, itu berarti risiko ekonomi yang lain semakin nyata.
Di tengah dinamika global yang demikian, Indonesia tetap memasang target pertumbuhan ekonomi di angka positif untuk 2026. Target ini bukan sekadar angka statistik, tetapi representasi kebutuhan fundamental yang ditopong oleh penyerapan tenaga kerja, peningkatan konsumsi domestik, dan stabilitas sosial. Tanpa pertumbuhan, ruang gerak ekonomi akan semakin sempit, terutama bagi jutaan rakyat yang menggantungkan hidupnya pada pasar tenaga kerja yang dinamis.
Namun, realitas di tanah air menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Meskipun tingkat pengangguran terbuka di Indonesia relatif moderat dibandingkan beberapa negara lain, sejumlah data menunjukkan kecenderungan yang mengundang perhatian. Per Februari 2025, lebih dari 1,87 juta orang tercatat sebagai pekerja yang sudah putus asa mencari kerja, sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya. Dari kelompok ini, sekitar 45.000 adalah lulusan S1 dan lebih dari 6.000 lulusan pascasarjana (S2 dan S3) yang tidak bekerja dan sudah menyerah mencari pekerjaan. Meski secara proporsi mereka hanya sebagian kecil dari total pengangguran, kehadiran lulusan berpendidikan tinggi yang menganggur menunjukkan adanya ketimpangan antara harapan pendidikan tinggi dan realitas pasar kerja.
Ini menjadi potret nyata bahwa pendidikan tinggi belum selalu menjamin penempatan kerja yang layak. Ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan pasar, serta perubahan struktur industri yang makin cepat, berdampak pada kapasitas ekonomi untuk menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi secara optimal.
Perlambatan ekonomi global membuat penciptaan lapangan kerja baru menjadi lebih sulit. Ketika investasi asing cenderung ditunda atau diarahkan ke zona yang lebih “aman”, ruang ekspansi sektor produktif menyempit. Padahal sejarah ekonomi menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya disertai dengan absorpsi tenaga kerja yang signifikan baik di sektor manufaktur, jasa, maupun teknologi. Ketika roda pertumbuhan global melambat, negara seperti Indonesia harus menemukan ruang baru untuk bertahan.
Dalam ekonomi modern, pertumbuhan bukan hanya soal angka produk domestik bruto (PDB) malainkan adalah soal keyakinan kolektif keyakinan bahwa jika kita bekerja keras, peluang akan tersedia. Keynes pernah menekankan pentingnya animal spirits motivasi dan kepercayaan pelaku ekonomi sebagai pendorong aktivitas ekonomi. Ketika ketidakpastian geopolitik dan pasar global tinggi, animal spirits ini cenderung melemah, sehingga konsumsi dan investasi domestik juga ikut tertekan. Kondisi ini menuntut kebijakan yang tidak hanya mekanis, tetapi juga memiliki sensitivitas terhadap dinamika psikologis pasar.
Bagi Indonesia, tantangan pertumbuhan 2026 adalah membangun sebuah ekonomi yang tahan terhadap guncangan eksternal, sambil tetap membuka peluang lapangan kerja yang bermakna terutama bagi generasi berpendidikan tinggi yang mengharapkan return atas investasi pendidikan mereka. Ini bukan sekadar soal angka pertumbuhan tahunan, tetapi soal kualitas pertumbuhan itu sendiri, apakah akan mampu penyerapan tenaga kerja, memperkuat keterampilan tenaga kerja, serta menumbuhkan ekosistem yang adaptif terhadap perubahan global.
Menetapkan target pertumbuhan ekonomi 5,4 -6 persen di tengah dunia yang melambat adalah langkah berani bukan karena target itu sendiri, tetapi karena hal ini mencerminkan tekad untuk tidak terjebak dalam fatalisme global. Indonesia perlu menemukan cara untuk tetap berjalan di tengah arus yang bergolak, memastikan bahwa pertumbuhan bukan hanya sekadar angka, tetapi juga jalan menuju kesempatan, keamanan, dan masa depan yang lebih kuat bagi seluruh lapisan masyarakat
