![]() |
| Foto: Mensesneg Prasetyo Hadi. Website Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia |
PIKIRAN JAKARTA – Kekosongan kursi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) dan kabar reshuffle Kabinet Merah Putih kembali memunculkan spekulasi di publik, berpotensi memengaruhi stabilitas pemerintahan dan kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
Isu reshuffle mencuat di tengah tingginya perhatian masyarakat terhadap kinerja kabinet, terutama setelah kursi Wamenkeu ditinggalkan Thomas Djiwandono yang kini menjabat Deputi Gubernur Bank Indonesia. Kekosongan ini menimbulkan tanda tanya terkait arah kebijakan keuangan dan kesiapan pengganti posisi strategis tersebut.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa isu reshuffle sejauh ini masih berupa gosip dan belum ada keputusan dari Presiden Prabowo Subianto. Prasetyo menyebut Presiden terus mengevaluasi kinerja menteri, dan keputusan reshuffle sepenuhnya merupakan hak prerogatif presiden.kata Pras di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (30/1).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi sinyal pelantikan Wamenkeu baru kemungkinan berlangsung Februari, tetapi ia tidak memastikan tanggal pasti, termasuk kabar 8 Februari yang sempat beredar. Purbaya juga menegaskan, jumlah wakil menteri Kemenkeu tidak akan bertambah dan tetap maksimal dua orang.
Berbagai pihak menilai isu reshuffle dapat berdampak pada stabilitas birokrasi dan implementasi kebijakan fiskal, terutama di tengah perhatian publik terhadap kinerja kementerian keuangan. Pengamat politik menyebut, spekulasi berulang soal pergantian menteri bisa menimbulkan ketidakpastian bagi investor dan masyarakat.
Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan kepastian resmi terkait pengisian kursi Wamenkeu dan kemungkinan reshuffle kabinet lebih luas. Publik menunggu perkembangan berikutnya, terutama keputusan Presiden terkait posisi strategis di kabinet yang berpotensi memengaruhi kebijakan nasional.
