
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, (foto: Sekertariat Negara)
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menggelar dialog tertutup bersama para rektor dan guru besar perguruan tinggi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis pagi. Agenda tersebut tidak dibuka untuk publik karena membahas sejumlah isu strategis dan teknis.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan permohonan maaf kepada awak media terkait sifat tertutup pertemuan tersebut. Menurutnya, Presiden ingin berdiskusi secara mendalam dengan para pimpinan akademik.
“Mohon maaf, kali ini memang diagendakan tertutup karena banyak hal teknis yang ingin dibahas langsung oleh Bapak Presiden bersama para rektor dan guru besar,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis.
Ia menjelaskan dialog tersebut merupakan bagian dari peran Presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dalam menyampaikan pandangan mengenai kondisi nasional, dinamika geopolitik global, hingga arah kebijakan strategis ke depan.
Sekitar 1.200 undangan hadir dalam pertemuan tersebut, yang terdiri dari rektor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia.
Prasetyo menegaskan, pemerintah menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pendidikan dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia unggul.
“Pendidikan adalah pondasi dan faktor kunci. Selain kita bekerja keras mencapai swasembada pangan dan energi, sumber daya manusia menjadi landasan utama menuju Indonesia Emas 2045,”katanya.
Dalam dialog itu, Presiden dan para akademisi juga membahas percepatan pemenuhan kebutuhan tenaga dokter nasional. Saat ini, Indonesia masih kekurangan lebih dari 100 ribu dokter.
Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan tinggi turut menjadi fokus pembahasan, termasuk penguatan kualitas dosen, sarana dan prasarana kampus, serta tata kelola perguruan tinggi.
Pemerintah juga tengah mengkaji skema untuk menekan beban operasional perguruan tinggi negeri agar kampus dapat berkembang tanpa menambah beban biaya bagi mahasiswa dan masyarakat.
“Kami sedang menghitung kemungkinan agar universitas bisa maju dan berkualitas tanpa memberatkan pembiayaan bagi mahasiswa maupun masyarakat,” pungkas Prasetyo.